Pengantar
Alhamdulillah, Forum Ukhuwwah Mahasiswa Muslim Ahlus Sunnah (FUMMA) telah sukses melaksanakan acara kajian ilmiah Islam di masjid Al-Mizan. Alhamdulillah, acara tersebut dihadiri oleh banyak kalangan sekaligus mendapat sambutan dan tanggapan yang sangat hangat. Semoga acara tersebut bermanfaat bagi mereka, dalam membimbing dan mengarahkan mereka menuju jalan yang diridhai oleh Allah ‘Azza wa Jalla.
Dalam rangka lebih meratakan manfaat kajian tersebut, maka kami hadirkan kepada segenap kaum muslimin transkrip kajian tersebut. Karena panjangnya pembahasan, maka risalah ini kami sajikan dalam dua seri. Semoga bermanfaat …
إن الحمد لله، نحمده ونستعينه، ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا، وسيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله.
( يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن إلا وأنتم مسلمون )، ( يا أيها الناس اتقوا ربكم الذي خلقكم من نفس واحدة وخلق منها زوجها وبث منهما رجالا كثيرا ونساء واتقوا الله الذي تساء لون به والارحام إن الله كان عليكم رقيبا)، (يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله وقولوا قولا سديدا يصلح لكم أعمالكم ويغفر لكم ذنوبكم ومن يطع الله ورسوله فقد فاز فوزا عظيما).
أما بعد، فان أصدق الحديث كتاب الله، وأحسن الهدي هدي محمد، وشر الامور محدثاتها، وكل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة، وكل ضلالة في النار.
Para hadirin kaum muslimin majelis ta’lim atau dauroh yang saya muliakan. Pada hari ini pada 22 Rabi’uts Tsani 1430 H, bertepatan dengan 18 April 2009, kita berkumpul di majelis ini, dalam rangka melaksanakan salah satu ibadah, yaitu thalabul ‘ilmi, yakni ibadah menuntut ilmu Islam dari sumbernya. Dalam melaksanakan ibadah yang mulia ini, saya mengingatkan diri saya pribadi dan semua yang hadir disini, untuk senantiasa memulai, mengiringi, dan mengakhirinya dengan niat ikhlas karena Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sehingga kehadiran di masjid ini dinilai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai ibadah, dan kita berharap bahwa yang kita pelajari sekarang ini menjadi ilmu yang nafi’ (ilmu yang bermanfaat) yaitu ilmu yang bisa melahirkan taqwa, yang bisa mendorong kita untuk beramal. Maka posisi Al-Ikhlash dalam setiap ibadah -termasuk thalabul ‘ilmi- sangat menentukan keberhasilan seseorang dalam ibadah tersebut. Keberhasilan di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu akan tercatat sebagai amalan yang maqbulan (amalan yang diterima), dan keberhasilan secara zhahir dalam bentuk munculnya amalan shalih lainnya. Karena amalan shalih atau amalan yang diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mendorong pelakunya untuk berbuat amal shalih yang berikutnya, atau ia akan dimudahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk melakukan amal shalih lainnya. Ini yang kita harapkan dari majelis ini. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kita demikian.
Kemudian sebagaimana yang telah disebutkan dalam pembukaan acara ini, bahwa tema kita adalah :
“Memahami dan Mengamalkan Islam Secara Kaffah
Satu-Satunya Solusi bagi Umat Islam”
Dalam topik ini ada beberapa hal yang ingin kita bahas:
1. Apa makna “Memahami dan Mengamalkan Islam secara Kaffah”?
2. Kepada siapa diberlakukan “Memahami dan Mengamalkan Islam secara Kaffah”?
3. Apa dampak positif dalam upaya “Memahami dan Mengamalkan Islam secara Kaffah”; dan apa dampak negatif dari sikap mengabaikan dan tidak mau “Memahami dan Mengamalkan Islam secara Kaffah”?
MAKNA ISLAM KAFFAH
Islam kaffah maknanya adalah : Islam secara menyeluruh, yang Allah ‘Azza wa Jalla perintahkan dalam Al-Qur`an surat Al-Baqarah ayat 208. Perintah kepada kaum mu`minin seluruhnya. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ (208) [البقرة/208]
“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian kepada Islam secara kaffah (menyeluruh), dan janganlah kalian mengikuti jejak-jejak syaithan karena sesungguhnya syaithan adalah musuh besar bagi kalian.” [Al-Baqarah : 208]
Memeluk dan mengamalkan Islam secara kaffah adalah perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala yang harus dilaksanakan oleh setiap mukmin, siapapun dia, di manapun dia, apapun profesinya, di mana pun dia tinggal, di zaman kapan pun dia hidup, baik dalam sekup besar ataupun kecil, baik pribadi atau pun masyarakat, semua masuk dalam perintah ini : “Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian kepada Islam secara kaffah (menyeluruh)
Pada ayat yang sama, kita dilarang mengikuti jejak langkah syaithan, karena sikap mengikuti jejak-jejak syaithan bertolak belakang dengan Islam yang kaffah. Sementara pada ayat yang lain, Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menyebutkan tentang kebiasaan kaum Yahudi (Ahlul Kitab). Yaitu ketika Allah turunkan kepada mereka Kitab-Nya, Allah mengutus kepada mereka Rasul-Nya, mereka tidak mau mengimani, menjalankan, dan mengamalkan syari’at yang Allah Subhanahu wa Ta’ala turunkan secara kaffah. Ini adalah akhlak Yahudi. Allah Subhanahu wa Ta’ala menyatakan tentang mereka :
أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ فَمَا جَزَاءُ مَنْ يَفْعَلُ ذَلِكَ مِنْكُمْ إِلاَّ خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلَى أَشَدِّ الْعَذَابِ وَمَا اللهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ (85) [البقرة/85]
“Apakah kalian ini mau beriman kepada sebagian Al Kitab(Taurot) sementara kalian tidak mau beriman, tidak mau mengamalkan dengan syari’at yang lainnya,tidaklah balasan bagi orang-orang yang berbuat seperti ini diantara kalian,kecuali kehinaan di dunia. Dan pada Hari Kiamat nanti mereka akan dikembalikan ke sekeras-keras adzab. Tidaklah Allah sekali-kali lalai dari apa yang kalian lakukan.” (Al-Baqarah : 85)
Ayat yang kedua ini sebagai peringatan :
Bahwa kita dilarang meniru akhlak dan cara kaum Yahudi dalam beragama. Yaitu mereka mau menerima syari’at Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Allah turunkan dalam kitab Taurat atau disampaikan Rasul-Nya pada waktu itu jika syari’at tersebut tidak bertentangan dengan hawa nafsu mereka. Namun jika syari’at tersebut menurut pandangan mereka jika diterapkan dapat menghalangi kepentingan duniawi, kepentingan hawa nafsu dan syahwat mereka, atau tidak bisa diterima oleh akal logika mereka yang sempit, maka mereka tidak mau beriman dan mengamalkan syari’at Allah Subhanahu wa Ta’ala tersebut. Barangsiapa yang berbuat seperti itu, maka sungguh balasannya adalah kehinaan didunia dan adzab di akhirat nanti lebih keras lagi. Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan lalai terhadap apa yang kita lakukan ini.
Para hadirin yang saya muliakan..
Dua ayat dalam surah Al-Baqarah, yang pertama pada ayat ke 208, dan kedua pada ayat ke-185 merupakan dasar pembahasan kita pada topik ini.
Islam kaffah maknanya adalah Islam secara menyeluruh, dengan seluruh aspeknya, seluruh sisinya, yang terkait urusan iman, atau terkait dangan dengan akhlak, atau terkait dengan ibadah, atau terkait dangan mu’amalah, atau terkait dangan urusan pribadi, rumah tangga, masyarakat, negara, dan yang lainnya yang sudah diatur dalam Islam. Ini makna Islam yang kaffah.
Namun, sebelum membahas tentang Islam yang kaffah : apa maknanya dan bagaimana bentuk riil dari Islam yang kaffah ini? Sebelum kita mengetahui, seperti apa islam yang kaffah tersebut, apakah sudah pernah ada penerapan Islam secara kaffah? Apakah pernah agama Islam ini, sejak awal diturunkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala hingga hari ini, pernahkah diterapkan secara kaffah ataukah belum?
Jawabannya adalah pasti : bahwa Islam sudah pernah diterapkan secara kaffah. Islam secara kaffah sudah pernah dipahami dan diamalkan oleh generasi terbaik umat ini, yaitu generasi para shahabat Nabi ridwanallahi ‘alahi jami’an baik secara zhahir maupun secara bathin.
- Secara zhahir : tampak dalam berbagai amalan mereka, baik dalam urusan ibadah, akhlak, maupun muamalah.
- Secara bathin : yakni dalam keikhlasan, kebenaran dan kejujuran iman, dan takwa.
Semua itu telah diterapkan para shahabat Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam di bawah bimbingan langsung Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam secara berkesinambungan dari hari ke hari, dari tahun ke tahun. Ayat demi ayat turun, surat demi surat turun untuk mereka dengan disampaikan dan diajarkan langsung oleh Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam kepada mereka.
Ketika turun ayat tentang ibadah, maka Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam langsung mempraktekkan ayat tersebut, yakni mempraktekkan bagaimana cara beribadah yang dimaukan dalam ayat tersebut.
Ketika turun ayat tentang iman, maka Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam pun merinci makna yang terkait dengan iman tersebut.
Semua itu beliau lakukan dalam hadist- hadistnya, dalam keseharian bersama para sahabat. Selama kurang lebih 23 tahun Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam mendidik mereka di atas iman yang kaffah, Islam yang kaffah, ibadah yang kaffah, sampai akhirnya turunlah ayat :
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا [المائدة/3]
“Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kalian agama kalian dan telah Ku-cukupkan kepada kalian nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam itu jadi agama bagi kalian” [Al-Ma'idah : 3]
Ayat ini turun menjelang wafatnya Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam. Pada tanggal 9 Dzulhijjah ketika hajjatul wada’ (haji penghabisan/perpisahan) Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam. Ayat ini turun di padang ‘Arafah, yang kemudian para sahabat memahami bahwa Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam akan berpisah dengan turunnya ayat ini. Mereka bersedih bahwa wahyu sudah akan segera berakhir.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : ”Pada hari ini telah Ku-sempurnakan agama kalian dan telah Aku sempurnakan pula bagi kalian nikmat-Ku”, yakni nikmat Islam … sempurna pada hari itu
“dan telah Aku ridhai Islam itu jadi agama bagi kalian”
Islam yang mana yang Allah ridhai??
Islam dengan syari’at yang mana yang telah Allah ridhai??
Tidak lain jawabannya adalah : Islam ketika Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam masih hidup menyampaikan ayat demi ayat kepada para shahabatnya, difahamkan oleh Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam kepada mereka, kemudian difahami oleh para shahabat dan diamalkan oleh mereka, demikian terus sampai turun ayat Al-Maidah : 3 ini. Itulah Islam yang diridhai oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Itulah bentuk Islam yang Allah Subhanahu wa Ta’ala rela sebagai agama. Itulah bentuk pamahaman Islam yang telah diridhai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Yakni bentuk iman, bentuk ibadah, bentuk mu’amalah, serta bentuk akhlak yang ada pada hari itu.
Oleh karena itu Al-Imam Malik bin Anas rahimahullah (guru daripada Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah) menyatakan tentang ayat ini :
فَمَا لَمْ يَكُنْ يَوْمَئِذٍ دِينًا فَلاَ يَكُونُ اليَوْمَ دِينًا
“Sesuatu yang bukan tergolong bagian dari agama (Islam) pada hari itu (yaitu pada hari turunnya ayat Al-Ma`idah : 3), maka pada hari ini (sekarang pun) bukan bagian dari agama (Islam).”
Al-Imam Malik rahimahullah yang hidup kurang lebih 1200 tahun lalu sudah menyatakan pernyataan ini. Lalu bagaimana dengan kita yang hidup 1200 tahun lebih setelah Al-Imam Malik?
Maka tentunya segala sesuatu, -baik itu aqidah, ibadah, tata cara mu’amalah, cara memahami Islam, cara memahami Al-Qur’an, cara memahami hukum- hukum Islam- yang tidak ada pada hari ketika para shahabat masih hidup dan di tengah- tengah mereka masih ada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka pada hari ini pun bukan bagian dari Islam.
Sehingga bagian pertama ini bisa kita simpulkan, bahwa Islam kaffah, yang telah bersifat menyeluruh dari seluruh aspeknya, adalah Islam yang telah diterima oleh para shahabat secara langsung dari Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam dan mereka amalkan di bawah pengawasan Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam, bahkan pangawasan ilahi langsung. Kalau ada sesuatu tidak benar atau salah, maka turun ayat mengingatkan tentang suatu peristiwa, atau turun ayat lagi merinci permasalahan tersebut. Pengawasan langsung dari langit yang ke tujuh, yakni pengawasan langsung dari Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menurunkan syari’at ini. Oleh karena itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
« خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِى »
“Sebaik- baik generasi adalah generasi di mana Aku berada di sana.”
Maksudnya sebaik-baik dalam hal apa?
Dalam seluruh urusan agama, akhlaknya para shahabat terbaik, imannya juga yang terbaik. Ibadahnya, baik tingkat kualitas maupun tingkat kuantitas, para shahabat adalah yang terbaik. Karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tegas menyatakan, bahwa sebaik- baik generasi adalah generasi di mana Aku berada disitu.
Maka kita mengetahui sekelumit tentang pengertian Islam kaffah, dan dengan ini pula kita mengetahui pula jawaban yang dikemukakan tadi (apakah pernah Islam dipahami dan diterapkan secara kaffah?), maka jawabannya adalah pernah dan pasti pernah.
Oleh karena itu, kita diperintahkan dalam syari’at ini, baik dalam Al-Qur’an maupun dalam sunnah Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam, untuk senantiasa kembali kepada jejak mereka. Bagi yang ingin memahami Al-Qur’an, janganlah memahami Al-Qur`an dengan logika kita semata. Maka kembalikanlah pemahaman Al-Qur’an itu kepada generasi terbaik tersebut, yang lebik dari kita dari semua sisinya. Ketika orang hendak menerapkan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, harus menengok bagaimana para shahabat menerapkannya.
Berlanjut ke bagian 1b…




assalam…
wah panjang banget pembahasaanx..
tpi bgus isix..
salam kenal ^^
kunjungan balik sangat diharapkan
Oleh: pitaxxx on Juni 6, 2009
at 10:14
pertama, jika salam minimal ucapkan “assalamu’alaikum”, ya karena setau kami tidak dicontohkan oleh Rasululloh ucapan salam yang berupa “assalam…”
wa ba’d
jazakumulloh khoir atas sarannya saudara “pitaxxx”, teks’y sudah dipecah menjadi dua bagian, semoga dengan itu Anda dan pengunjung blog yang lain bisa lebih mudah membaca dan mendapatkan faidah-faidah’y.
Oleh: dennyjuzaili on Juni 7, 2009
at 16:16
salam kenal jg dr kami….
Oleh: ratna dewi sari w on Desember 17, 2010
at 08:29
assalamu alaikum Wr Wb
sebenernya gue buka ini cuman buat tugas kampus doang but ………………………setelah gue baca,pengetahuan gue tentang islam lebih bertambah lagi………………………….
trims ya
Oleh: rose on Januari 21, 2010
at 08:57
semua akan lbih berarti jika pengetahuan rose tentang islam kaffah d barengi oleh langkah rose.. dalam perjalanan hidup!!!!!
Oleh: tatn sutansah on Mei 31, 2010
at 14:23
btul bgt……….
karna syarat masuk surga adalah iman……
dan syarat iman adalah diyakini oleh hati,di ucapkan oleh mulut dan dijalani oleh amal prebuatan……… hilang syarat berartti masuk neraka krna tdk mungkin masuk surga……….
dan iman yang smpurna hanya bisa di temukan pada jalan yang lurus(islam kaffah)
Oleh: tatn sutansah on Mei 31, 2010
at 14:19
saya masih belum mengerti islam yang kaffah itu seperti apah.
Oleh: surya dienullah akbandani on November 12, 2010
at 08:28
aas wr wb…jujur kami sangat terkesan dengan artikel di atas,moga para pembaca artikel tsbt bisa mempelajari islam lebih mendalam lg…..amin,,,,,dan bg pembuat artikel tsbt mg mendapat rahmat dan bisa berbagi ilmu yg diperoleh utk yg lainnya.amin…
Oleh: ratna dewi sari w on Desember 17, 2010
at 08:35
islam kaffah dapat digambarkan seperti bangunan yg terdiri dari 3 bagian : fondasi, bangunannya sendiri, dan atap.
Oleh: pujianto on Agustus 26, 2011
at 18:37
assalamu”alaikum wr.wb
subhanallah pembahasan nya sangat jelas sekali sehingga memudahkan untuk orang mengetahui nya dan saya mau bilang terima kasih atas pemahaman anda tentang islam kaffah dan itu sangat membantu saya yang sedang mengkaji islam lagi
Oleh: niawatie on November 11, 2011
at 12:25